Saat kubergelut dalam pusaran lumpur
tangan-tangan rapuh berusaha menolongku
tak bergeming kuterus berjuang menuju ketepian
rasanya terlalu jauh untuk kujangkau
Sekelilingku kini rawa-rawa busuk
bersatu padu berserakan membuncah
ranting-ranting saling tikam hantam
membuatku terhuyung letih tak berdaya
Laki-laki yang mengandalkan hati
diantara naifnya kata manusiawi
mampukah membersihkan kotor dan debu
Sucikan
sucikanlah
akal terdiam
Aku tak bisa lepas seperti elang
seperti samudra luas menghantam cadas
seperti raja mengadakan sayembara
kemenangan tak asli kemenangan
Aku yang kerasan dalam lumpur
tragis hanya menangis
tak lebih
Masih sedikit jarak kutempuh
sebatas lutut tirani
buah dari pemberontakan
Walau selangkah lagi tapi tak pasti
apa yang dinamakan masa emas
bersemat keberuntungan di dada
Tercapaikah
berlalukah
tak pernah terkenang
Kini selangkah lagi sungguh pasti
kucarikan seribu nyawa bagi diriku
yang menyangsikan perjuangan dan ambisi
di kaki bukit doa dan kesungguhan
Selangkah lagi
tinggal selangkah
nada optimis dalam irama statis
aku berjalan walau terhuyung
menuju apa yang kuimpikan